ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Dewasa ini, di luar Amerika Serikat dan Rusia, boleh
dikatakan bahwa industri pertahanan yang paling produktif adalah Turki. Lini
dan ragam produk alutsista yang Turki produksi mulai dari pistol sampai pesawat
terbang bahkan melampaui negara seperti Inggris dan Jerman.
Walaupun belum semua komponen diproduksi sendiri, pencapaian
Turki dan industri pertahanannya patut diapresiasi. Apa yang mereka raih
sekarang, tidaklah terjadi dalam waktu semalam saja. Semua itu berangkat dari
keinginan kuat untuk mandiri, melawan arus kuat embargo.
Awal mulanya adalah operasi militer yang dilancarkan Turki
pada 20 Juli 1974 ke Siprus atas nama perlindungan warga Siprus keturunan
Turki. Kongres AS menghadiahi Turki dengan embargo militer akibat ulahnya itu
pada akhir tahun. Turki yang anggota NATO, banyak mengandalkan alutsista AS
untuk militernya.
Sebagai akibat dari embargo, kesiapan militer Turki turun
drastis. Tidak sampai setahun, kesiapan Angkatan Udaranya turun menjadi 50%
bahkan lebih, karena ketergantungan total kepada Amerika Serikat. Sebagai
contoh, dari 16 F-4 Phantom II yang dimiliki, hanya 6 unit yang operasional
kala itu.
Turki selama itu memang terlena karena keadaan, terbiasa
mendapatkan kemudahan dalam bentuk bantuan FMS (Foreign Military Sales) karena
Amerika Serikat banyak meminjam pangkalan militer Turki.
Sebagai akibat atas hilangnya bantuan militer AS, Turki
kemudian memutuskan untuk menaikkan anggaran pertahanan walaupun
perekonomiannya sendiri sedang tertekan pada waktu itu. Selain perekonomian yang
menurun, Turki pun menghadapi kenaikan harga minyak akibat OPEC memutuskan
menurunkan produksi.
Turki pun menerbitkan sejumlah aturan mengenai industri
pertahanan, dimana perusahaan asing yang ingin menjual peralatan militer harus
melakukan transfer teknologi dan juga produksi lokal yang menggandeng mitra
dalam negeri. Produksi lokal yang dilakukan pun harus mencakup pembuatan
komponen, tidak sekedar hanya merakit kit. Artinya industri lokal akan terbantu
karena menerima peralatan produksi, yang dapat digunakan untuk produksi
komponen lainnya.
Langkah tersebut diikuti dengan tindakan nyata dengan
membentuk sejumlah industri pertahanan seperti ASELSAN yang mengurusi perangkat
keras alutsista, HAVELSAN yang menangani sistem elektronik, TAI (Turkish
Aerospace Industry) untuk membuat industri pesawat terbang, dan ROKETSAN untuk
membuat sistem roket dan rudal.
Satu langkah penting pemerintah Turki lainnya adalah memaksa
militer untuk menyisihkan anggaran pertahanan untuk membeli alutsista buatan
industri dalam negeri. Walaupun terkesan proteksionis, hal ini memastikan bahwa
industri pertahanan nasional Turki yang jika diibaratkan manusia masih berupa
bayi, bisa bertahan pada tahap-tahap awalnya.
Setiap kecabangan angkatan bersenjata membuat yayasan yang
bisa menghimpun dana dari publik untuk kemudian digunakan mendanai pembuatan
alutsista. Keuangan setiap yayasan diaudit oleh akuntan publik sehingga
masyarakat penyumbang bisa tahu berapa dana yang diterima, berapa dana yang
disalurkan, dan investasi yang dilakukan atas dana yang belum terpakai.
Pembuatan yayasan ini lebih menguntungkan di sisi
pemerintah, karena dana bisa diterima terus-menerus. Selain itu, dibandingkan
dengan penjualan saham, pemerintah tidak kehilangan kontrol atas
perusahaan-perusahaan industri militer tersebut. Bandingkan dengan jika harus
menjual saham, dana yang diterima pun hanya sekali saja.
Yang tak kalah penting, adalah dukungan rakyat Turki.
Embargo Amerika Serikat telah mendorong naiknya patriotisme rakyat. Masyarakat
berbondong-bondong menyumbang. Yang tidak punya uang, menyumbangkan hasil bumi
seperti panenan gandum, kepada yayasan militer untuk riset alutsista.
Pemerintah mengabadikan nama-nama penyumbang dalam bentuk plakat untuk
menghormati jasa-jasa mereka yang merelakan hartanya demi negara.
Dengan dana pemerintah yang disokong oleh dana rakyat,
industri militer Turki pun melesat cepat. Diawali dengan pembuatan senjata
ringan seperti pistol, senapan, dan senapan serbu melalui sejumlah pabrik yang
didirikan, pada dekade 1980an Turki sudah mampu melakukan modifikasi atas
tank-tank seperti M48 yang dibeli dari Jerman Barat, dan M60 setelah Amerika
Serikat mencabut embargo.
Turki sendiri bersikap pragmatis dalam pengembangan industri
pertahanannya. Negara seperti Israel yang berseberangan secara prinsip dan
ideologi, digandeng karena mau memberikan teknologi militer mereka. Negara lain
yang mau berbagi teknologi, semua dijajaki termasuk untuk produksi bareng atau
lisensi. Urusan politik, biarlah itu jadi urusan para politikus saja.
Akhirnya, pada akhir paruh 1980an, industri militer Turki
telah menjelma menjadi kekuatan ekonomi yang kuat dan diperhitungkan. Dana yang
dihimpun yayasan militer Turki berhasil mencapai angka fantastis, US$600 juta
atau sekira 8,1 Trilyun pada tahun 1986. Kuncinya memang keberpihakan
pemerintah, militer, industri sendiri, dan tentu saja rakyat yang merasa
memiliki.
Apabila diilustrasikan, Jumlah yang terkumpul di Turki pada
tahun 1980an tersebut mampu mendanai industri pertahanan Indonesia selama 10
tahun, jika dibandingkan dengan jumlah Penyertaan Modal Negara (PMN) yang
dibutuhkan oleh tiga industri pertahanan dengan status integrator seperti PT.Pindad,
PT.PAL, dan PT. Dirgantara Indonesia.
Begitulah kurang lebih gambaran sejarah perkembangan singkat
mengenai industri pertahanan dalam negeri Turki. Dalam tulisan berikutnya
penulis akan coba menggambarkan perjalanan masing-masing perusahaan industri
pertahanan Turki hingga dapat mencapai tahap seperti sekarang ini. (Aryo
Nugroho)
Sumber : uctalks.ucweb.com

0 Response to "Turki, Kiblat yang Cocok Untuk Indonesia Bila Ingin Mendirikan Pertahanan Mandiri"
Posting Komentar